Beranda / Berita

Tradisi Budaya Larung Sesaji Pantai Tambakrejo Blitar Digelar Sederhana


Source: Team Kreatif DISPARBUDPORA Kab. Blitar. 2021-08-26

BLITAR – Larung sesaji tiap 1 Muharram (1 Suro) merupakan tradisi turun-temurun warga pesisir pantai Selatan, khususnya di Pantai Tambakrejo, Kecamatan Wonotirto, Kabupaten Blitar. Tradisi ini merupakan wujud syukur atas nikmat tuhan berupa rejeki, keselamatan serta hasil alam yang melimpah.


Tiap tahunnya, tradisi ini selalu dinantikan ribuan pengunjung dari berbagai daerah-daerah. Akan tetapi karena adanya pandemi Covid-19 kali ini kegiatan Larung Sesaji diselenggarakan sederhana dan tertutup untuk umum serta penerapan protokol kesehatan yang ketat.


Tradisi Larung Sesaji yang diadakan kali ini masih sama seperti tahun sebelumnya, yakni digelar dengan sederhana dan tertutup untuk umum. Prosesi Larung Sesaji diawali dengan pembacaan doa (Ujub) oleh ketua adat yang berisi ungkapan-ungkapan syukur atas hasil laut yang diperoleh selama setahun, serta harapan memperoleh hasil yang baik tanpa ada halangan dan terhindar dari wabah dan musibah.


Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Blitar Rini Syarifah. Bupati hadir didampingi Ketua Dekranasda H. Zainal Arifin dan beberapa kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar. Hadir pula dalam agenda ini perangkat desa dan tokoh masyarakat Desa Tambakrejo.


Dalam kesempatan tersebut, Bupati yang akrab disapa Mak Rini menyampaikan, pihaknya sangat mengapresiasi penyelenggaraan tradisi adat budaya Larung Sesaji Tambakrejo. Menurutnya, tradisi sedekah laut ini harus diuri-uri dan dilestarikan sebagai sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat dan para nelayan kepada Tuhan atas limpahan hasil tangkapan ikan selama satu tahun.


“Larung sesaji merupakan salah satu bagian dari kearifan lokal di Kabupaten Blitar yang tentunya harus kita uri-uri dan kita lestarikan. Alhamdulilah hari ini prosesi larung sesaji berjalan lancar meski digelar sederhana dan tertutup dengan penerapan protokol kesehatan,” kata Bupati Rini, Rabu (11/8/2021).


Bupati menjelaskan, Larung Sesaji kali ini digelar lebih sederhana dibanding sebelum pandemi melanda. Prosesi pelaksanaan dipersingkat seperti sambutan doa bersama. Sementara prosesi larungan ke laut dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.


“Selain digelar sederhana dan tertutup, prosesi Larung Sesaji kali ini juga kita pangkas waktunya supaya tidak mengundang kerumunan. Mengingat saat ini aturan PPKM diperpanjang lagi jadi acaranya terbatas dan tidak ada undangan dari luar,” tandasnya.


Lebih dalam di Bupati menambahkan, Larung Sesaji Tambakrejo merupakan tradisi budaya warisan leluhur yang telah dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Budaya RI. Oleh karena itu, keberlangsungannya harus tetap dijaga dan dilestarikan.


“Saya berharap budaya ini dapat diuri-uri sampai kapanpun, jangan sampai tidak karena larung sesaji 1 Suro sudah diakui oleh pemerintah yakni dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda sehingga harus kita jaga bersama-sama,” tuntasnya.